Jumat, 27 Desember 2013

Mantan Emas

oleh Larasisca Della Faradilla

Sore ini langit masih berdebu
Entah warna tembakau atau tanah kering
Terkadang tawa tak bernada tersebar dimana-mana
Tapi hanya sepi yang tergumam
Ia berlari dengan bayangan
Memunguti mata-mata yang terjatuh
Ia sempat melontarkan hujatannya
"Mengapa daun-daun itu tak memelukku lagi?"
Hening...

Senin, 23 Desember 2013

Sendiri

oleh Kiki Nurhasanah

Sepi menyelimuti hidupku,
Tak ada yang perduli lagi padaku
Semua orang meninggalkanku,
Semua orang menjauhiku
Tak ada lagi yang ingin berteman denganku

Angin berhembus membawa kehampaan hidup,
Menghempaskanku kembali pada kesedihan,
Aku menangis...
Tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi

Misteri Kembalinya Sang Ratu

oleh Annisa Aulia Rosyadi

Dahulu kala, di Provinsi Kalimantan Timur, ada sebuah kerajaan yang makmur dan sejahtera bernama Kerjaan Kutai. Semua rakyatnya hidup  tentram dan bahagia. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana, tampan, dan baik hati yang bernama Maharaja Sri Wangsawarman. Karena itu, Wangsawarman sangatlah dicintai oleh rakyatnya. Beruntung, raja ini memiliki seorang istri cantik jelita bernama Gandhari Lengkaradewi. Siapapun yang melihatnya pasti akan terpana oleh aura kecantikan yang dipancarkan oleh wajahnya. Selain cantik, Gandhari merupakan istri yang sangatlah setia kepada suaminya. Ke manapun Wangsawarman pergi, ia seringkali mendampinginya. Sekarang, Gandhari sedang hamil. Tinggal menghitung hari, lahirlah hasil buah cinta mereka.

Suatu hari, datanglah seorang wanita bernama Candralocana dari Negeri Rantau Batu Gonali. Parasnya lumayan cantik, namun sangat disayangkan hatinya tidak. Ia datang  untuk meminjam  persediaan beras karena wilayahnya sedang dilanda kemarau panjang sehingga banyak padi yang mengalami gagal panen. Ternyata, dibalik semua itu terdapat maksud lain. Rupanya, ia ingin merebut wilayah kerajaan dan menggantikan  posisi Raja Wangsawarman.

“Baginda Raja, bolehkah sementara ini saya meminjam persediaan beras yang Anda punya di kerajaan ini?”

“Tentu saja,  silahkan ambil sebanyak apapun yang Kamu mau.” ujar sang raja

“Terima kasih Baginda. Benar kata orang, selain tampan ternyata Anda juga raja yang baik.” sanjung Candralocana dengan senyum licik.

“Anda bisa saja.” sahut Wangsawarman malu-malu.

“Yang mulia, apa yang harus saya lakukan untuk membalas kebaikan anda?”  Sambung Candralocana.

“Ada sesuatu yang kuinginkan. Bisakah kau menemani istriku dalam proses kelahiran anakku nanti? Aku tidak bisa berada disampingnya karena aku harus memimpin sebuah pertempuran untuk mempertahankan wilayah kerajaanku ini. Aku sengaja tidak memberitahunya karena aku tidak mau ia khawatir.” jawab Wangsawarman.

“Tentu saja baginda, aku bersedia menolongmu.” ujar Candralocana.

Candralocana sangat senang dengan hal ini. Dengan begitu, ia bisa memanfaatkan kesempatan yang diberikan untuk melenyapkan sang ratu dan mengambil alih kekuasaan di kerajaan.

Minggu, 22 Desember 2013

Cinta Itu

oleh Yulinda Rizki Nur Azizah

Berbanding lurus dengan gila, cinta itu…
Mencintaimu seperti menuruni bukit dengan sepeda tanpa rem
Mendebarkan, menakutkan, namun menyenangkan
Mencintaimu seperti melayang di udara setelah terjun bebas tanpa parasut
Aku tak bisa berhenti, tak akan bisa berhenti, namun aku menikmati
Mencintaimu seperti bermimpi tentang tarian kunang-kunang di padang rumput yang sunyi
Menyejukkan, menciptakan getaran tak terdefinisi walau hanya sementara

            Berbanding lurus dengan gila, cinta itu…
            Menyentuhmu seolah tersengat listrik dari kabel cacat dengan tegangan rendah
            Menyentak, sekaligus mengirimkan impuls-impuls halus yang menggelitik dada

Sang Patriot Bangsa

oleh Diana Safira

Dikala dentuman bom mulai terdengar
Disaat itulah kau sigap bergerak
Dikala penjajah tengah membantai
Disaat itu pula kau pertaruhkan jiwa dan raga

Berbagai serangan yang menerjang
Berbagai tembakan yang terlontar
Dapat kau tembus dengan gagahnya
Demi untuk kebebasan Negara

Rabu, 18 Desember 2013

Milikmu, Padaku

oleh Shabrina Izzati Adliah

Menghangat diriku
Mataku tak lepas dari juntaian beringin
Di samping batu teronggok
Milikmu
                Bersemu wajahku          
                Kala kau nyatakan sayang
                Pada 26 malam purnama sebelum ini
                Padaku
Dan merintih jiwaku
Engkau tidur dalam senyum
Setelah kau berikan jiwa raga

Selasa, 17 Desember 2013

Arti Sebuah Cinta

oleh Angel Rezky Pratama
Di pagi yang sangat cerah, aku terbangun untuk melihat sekolah baruku. Aku baru saja pindah ke Jakarta. Dengan sangat semangat aku ingin melihat sekolah baruku di sini. Dengan cepat-cepat aku mandi, pakai baju, dan sarapan. Setelah itu aku tinggal menunggu angkutan. Beberapa menit kemudian aku melihat angkutan langsung saja aku naik. Singkat cerita, sampai di sekolah baruku, aku terpana-pana melihatnya.
"Sungguh indahnya sekolah ini, di bersihkan dengan baik dan luas sekali." kataku.
Langsung saja aku masuk ke sekolah yang diberi tahu oleh orang tuaku. Tiba-tiba ada yang menyenggolku dari belakang dan berkata, "Anak baru yah?"
Langsung saja aku kaget dan dia langsung pergi masuk ke dalam sekolah itu,aku terheran-heran, "Siapa dia dan kok sok kenal betul..." kataku dalam hati.
Sampaiku di halaman sekolah ternyata anaknya banyak betul yang sekolah di sini,dan sepertinya sekolah ini favorit. Dan aku mencari-cari kelasku X-X sambil berkeliling dan melihat-lihat. Sampailah aku di kelasku, aku duduk saja di bagian paling belakang dan paling pojok. Sambil melihat-lihat dan membaca buku, ternyata bel masuk sudah berbunyi. Masuklah semua teman-teman di kelasku, aku masih ragu untuk berkenalan kepada mereka
"Mungkin nanti saja aku berkenalan pada mereka..."pikirku.
 
Cute Red Pencil

Pengikut


Get this widget!
Books & Literature Blogs - Blog Rankings